PPL I Terbimbing menjadi fase krusial dalam proses pembentukan identitas profesional calon guru. Pada tahap ini, mahasiswa tidak hanya mempraktikkan perangkat pembelajaran, tetapi juga belajar memahami kultur sekolah, karakter peserta didik, serta dinamika pengelolaan kelas secara langsung. Pengalaman ini menjadi ruang nyata untuk mengintegrasikan kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian secara utuh.
Kepala SMPN 3 Bantul, Bapak Joko Sulistya, M.Pd., M.Hum., menegaskan bahwa kehadiran mahasiswa PPG di sekolah bukan sekadar pelaksanaan program, melainkan bagian dari tanggung jawab bersama dalam menyiapkan guru masa depan.
“Kami menyambut baik pelaksanaan PPL I Terbimbing ini sebagai bentuk kolaborasi nyata antara perguruan tinggi dan sekolah. Sekolah bukan hanya tempat praktik, tetapi ruang pembelajaran bersama. Mahasiswa belajar dari dinamika sekolah, dan kami pun belajar dari semangat serta inovasi yang mereka bawa. Inilah ekosistem pendidikan yang saling menguatkan,” ujar beliau.
Sinergi antara perguruan tinggi dan sekolah mitra menjadi kekuatan utama dalam pelaksanaan program ini. Kolaborasi tersebut tidak hanya menghadirkan pengalaman belajar yang autentik bagi mahasiswa, tetapi juga memperkuat budaya profesional di lingkungan sekolah. PPL I Terbimbing menjadi pengingat bahwa fondasi guru masa depan Indonesia dibangun melalui proses nyata—dari ruang kelas, diskusi evaluatif, hingga refleksi berkelanjutan bersama pembimbing.
#PPG2026 #MahasiswaPPG #PPLTerbimbing #UNY #DosenPendampingLapangan #GuruPamong
#KoordinatorPPL #CalonGuruProfesional #PendidikanIndonesia #KolaborasiSekolah #PraktikMengajar #BeritaPendidikan #PengembanganGuru #SekolahMitra #InfoPendidikan



